DONASI IKLAN

dakwahalummah.com – Jawaban atas pertanyaan Syuhada: untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita perhatikan terlebih dahulu Hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad, Daraquthni, Baihaki dari ‘Ubadah:
Dari ‘Ubadah ia berkata: Rasulullah SAW sholat subuh, orang-orang yang makmum nyaring bacaannya. Setelah selesai sholat lalu beliau menegur, “Aku kira kamu sama membaca di belakang imam-mu? Kata ‘Ubadah kita sama-sama menjawab: betul wahai Rasulullah, demi Allah benar begitu. Maka Nabi SAW bersabda: jangan kamu mengerjakan demikian kecuali bacaan ummul Qur’an (al Fatihah)
Hadist ini menegaskan ketika imam membaca dengan nyaring, maka makmum tidak membaca sesuatu di belakang imam, kecuali surah al Fatihah. Dengan demikian ketika imam membaca surah Al Qur’an atau setelah al Fatihah maka makmum tidak diperkenankan membaca apapun kecuali al Fatihah. Namun kemudian muncul masalah yaitu kapan membaca al Fatihah bagi makmum? Apakah pada saat imam membaca al Fatihah ataukah setelah imam selesai membaca al Fatihah/yakni pada saat imam membaca surah setelah al fatihah ? bagaimana pula cara membacanya, apakah secara jahr (nyaring) ataukah secara sirr (tidak bersuara). Jawabannya ada pada hadist d bawah ini
Dari Anas RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: apakah kamu dalam sholatmu membaca (dengan nyaring) di belakang imam-mu, padahal imam itu membaca (dengan nyaring) ? janganlah kamu mengerjakannya. Hendaklah seorang dari kamu membaca Fathul Kitab (al Fatihah) pada dirinya (dengan suara rendah yang hanya di dengar sendiri) (HR Ibn Hibban dari Anas)
Hadist terakhir ini menyatakan, bahwa makmum hendaknya membaca al Fatihah di belakang imam dengan suara sirr, yakni dengan suara rendah/pelan yang hanya di dengar sendiri. Dalam hadist tersebut memang tidak disebutkan secara tegas mengenai kapan makmum itu membaca al Fatihah. Namun melalui hadist itu pula kita dapat memahami bahwa waktunya untuk membaca al Fatihah itu sebaiknya adalah pada saat imam membaca surah al Fatihah atau dicelah-celah imam membaca ayat-ayat dari al Fatihah. Sedangkan pada saat imam membaca surah Al Qur’an (setelah al Fatihah), makmum sepenuhnya memperhatikan bacaan imam.
Dalam HPT (Himpunan Putusan Tarjih) pun telah memberikan tuntunan sebagai berikut: “Hendaklah kamu memperhatikan dengan tenang bacaan imam apabila keras bacaannya (jahr) maka janganlah kamu membaca sesuatu selain surah al Fatihah.”
Adapun bagaimana jika makmum datang sedangkan imam sudah ruku.
Dalam tuntutan sholat berjama’ah dijelaskan bahwa makmum yang mendapatkan imam sedang ruku berdasarkan hadist yang diriwayatkan At Tirmidzi dari Ali RA dan Mu’az bin Jabal (HPT hal 138)
Bersabda Rasulullah SAW: “Apabila salah seorang di antara mu mendatangi sholat (berjama’ah) pada waktu sedang berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia kerjakan sebagaimana apa yang dikerjakan oleh imam”.
Dalam hadist lain disebutkan, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa menjumpai ruku dari sholat sebelum berdiri tegak dari ruku, maka berarti dia telah mendapatkan raka’at yang sempurna.”
Hadist lainnya : “Tidak sah sholat orang yang tidak membaca permulaan kitab (al Fatihah)” (Bukhari dan Muslim)
Sepertinya kalau kita melihat sekilas hadist-hadist di atas terjadi ta’arud/pertentangan, tapi jika kita melihat lebih seksama sesungguhnya hadist-hadist di atas tidak bertentangan. Dalam tarjih digunakanlah metode al Jam’u wattaufiq (dengan mengumpulkan dan mempertemukan makna ketiga hadist di atas, dengan mengamalkan keduanya.
Hadist yang menyatakan tidak sah sholat tanpa al Fatihah berlaku bagi semua sholat dalam keadaan biasa (tidak ketinggalan) dan hadist mengenai makmum yang menjumpai ruku imam merupakan takhshish (pengkhususan) bagi orang yang melaksanakn sholat berjama’ah dalam keadaan ketinggalan datangnya (terlambat), maka masih mendapatkan rukunya imam berarti telah mendapatkan rakaat yang sempurna (Ustadz Mairijani)