Oleh: Muhsin Hariyanto

Berkali-kali saya dengar (banyak) orang mengucapkan kalimat insyâallâh, dan selanjutnya mereka merasa tak terbebani dengan ucapan itu, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. “Sekarang berjanji, besok pun diingkari”. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Memang, banyak orang di sekitar kita yang sering mengucapkan kata insyâallâh tanpa menghayati maknanya. Alih-alih menghayati, bisa jadi mereka ‘tak benar-benar mengerti’ makna kata insyâallâh itu. Lalu, pertanyaan kita yang kita jawab (selanjutnya) adalah: “Apa makna esensial dari kata yang terlalu sering kita dengar itu?

Kata guru ngaji saya, sewaktu saya masih belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta: “segala sesuatu yang menyangkut persoalan yang belum terjadi, dalam pengertian ditengarai akan terjadi pada ‘masa yang akan datang’, meskipun sekadar ‘sekejap’, semua orang tidak bisa memastikan akan benar-benar terjadi, kecuali bila sesuatu itu dikehendaki Allah untuk benar-benar terjadi.

Nah, sekarang perhatikan makna firman Allah dalam QS al-Kahfi, [18]: 23-24: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “insyâallâh”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada (hal) ini”.

Menurut salah satu riwayat, berkaitan dengan sabab an-nuzûl ayat di atas, ada beberapa orang Quraisy yang bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang rûh, kisah ashhâbul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain. Berawal dari pertanyaan itu beliau pun menjawab: “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Dan beliau sama sekali tidak mengucapkan kalimat insyâallâh (jika Allah menghendaki). Ternyata, sampai esok harinya wahyu (yang diharapkan datang untuk menjawab pertanyaaan itu) terlambat datang untuk menceritakan (menjawab) hal-hal (perihal pertanyaan) tersebut, dan Nabi s.a.w. pun (karena belum turunnya wahyu dari Allah) tidak mampu menjawabnya. Berkaitan dengan hali itu, maka turunlah QS al-Kahfi, [18]: 23-24, sebagai pelajaran kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Dalam hal ini Allah mengingatkan Nabi s.a.w. (yang telah) lupa menyebut kalimat insyâallâh ketika berjanji, dan beliau pun menyadari kekhilafannya.

Untuk menjawab pertanyaan mengenai makna (esensial) kalimat insyâallâh, para ulama menjelaskan, bahwa sesuatu yang menyangkut masa yang akan datang, minimal mencakup lima unsur: (1) pelaku (subjek); (2)  yang diperlakukan (objek); (3) waktu dan tempat kejadian; (4) sebab- musabab; (5) kekuatan dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakannya.

Oleh karena itu, misalnya ketika seseorang berkata: “Besok saya akan pergi ke tempat Mr. X untuk membicarakan masalah X”, sebenarnya orang tersebut tidak memiliki jaminan apa pun bahwa ia akan tetap bisa hidup sampai besok dan berkemampuan untuk datang ke tempat Mr. X untuk membicarakan masalah yang dijanjikannya. Begitu pula Mr. X yang akan ditemui olehnya, juga tak memiliki jaminan yang sama untuk bisa bertemu denganya di tempat dan waktu yang dijanjikan. Kalau pun ‘ia’ pada waktu yang sudah ditentukan ‘bisa pergi’, mungkin waktunya tidak setepat yang dijanjikan, atau tempatnya pun bisa berubah; atau mungkin saja pada waktu dan tempat yang telah dijanjikan, mereka berdua itu tidak berkemampuan untuk melaksanakan niatnya, atau bahkan juga bisa berubah niat untuk melaksanakannya pada saat dan tempat yang berbeda.

Kesimpulan pentingnya: “siapa pun sama sekali tidak memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan ‘kelima unsur’ tersebut di atas secara mandiri, tanpa bergantung pada siapa pun. Semua itu akan terpulang dan dikembalikan kepada pengaturnya; Allah-lah yang Maha Kuasa untuk mengatur semua persoalan, termasuk sesuatu yang kita inginkan. Manusia – sekuat apa pun — harus menuruti kehendak-Nya. Sehingga ucapan  insyâallâh yang diucapkan oleh setiap orang, bermakna: “Jika Allah menghendaki atau mengizinkan, semua rencana orang itu pasti akan terlaksanana. Sebaliknya, bila Allah tidak menghendaki atau mengizinkan, pasti rencana orang itu pun akan (selalu) gagal.

Selanjutnya, apa yang seharusnya kita sikapi ketika kita sudah benar-benar mantap mengucapkan kalimat insyâallâh? Kita – setelah mengucapkannya — harus berupaya optimal untuk melaksanakan apa yang kita niatkan dengan seluruh kemampuan kita, dengan dua sikap yang tak mungkin kita abaikan: “Sabar dan Tawakal”. Sabar, dalam pengertian: “bersikap pro-aktif untuk meraih sesuatu yang kita niatkan, (kita) kehendaki, (kita) inginkan, (kita) harapkan, (kita) cita-citakan tanpa ‘kenal’ putus asa”. Diiringi dengan sikap ‘tawakal’, dalam pengertian: “menyandarkan diri dalam semua usaha kita hanya kepada Allah semata”.

Jadi, substansi ucapan ‘insyâallâh’ yang telah kita ucapkan, bermakna: “kita telah benar-benar bertekad untuk melaksanakan apa yang kita niatkan dan (kita) janjikan seoptimal mungkin, dengan sebuah kesadaran (ilahiah), bahwa ‘hasil’ dari setiap upaya kita (benar-benar) hanya bergantung pada kehendak dan izin Allah semata. Tanpa kehendak dan izin Allah, apa pun yang sudah kita upayakan tidak akan pernah berhasil untuk kita capai, kapan pun dan di mana pun!

Sebagai seorang muslim, ketika sudah mengucapkan kalimat insyâallâh,  harus berhimmah untuk beramal shalih seoptimal mungkin (yang berpotensi mengisi kekosongan hati kita), disertai dengan keinginan kuat untuk meninggalkan perbuatan ‘dosa’ (maksiat) sekecil apa pun (yang berpotensi mengotori hati kita), dan dengan (mantap) mengucapkan kalimat yang menunjukkan kekuatan niat kita: “insyâallâh”, agar kita bisa membangun sikap ikhlas dalam beramal shalih dan (sekaligus) membangun budaya “kerja keras dan cerdas” dengan pondasi iman dan taqwa kita sebagai seorang muslim.

Sekarang, dengan pengakuan keislaman kita, “bukan saatnya kita ‘bermimpi’. Buktikan bahwa kita bisa ‘beraksi’. Bersama Allah, insyâallâh, kita “bisa!”

suara muhamadiyah.

Tinggalkan Balasan