SEKILAS INFO
  • 2 minggu yang lalu / Semoga tampilan baru ini bermanfaat.
WAKTU :

Teks Khutbah Idul Adha: Potret Keluarga Ideal: Ketaatan Yang Melahirkan Peradaban

Terbit 4 Agustus 2019 | Oleh : Dakwah Al Ummah | Kategori : BERANDA
Teks Khutbah Idul Adha: Potret Keluarga Ideal: Ketaatan Yang Melahirkan Peradaban

Khutbah Idul Adha

10 Dzulhijjah 1440 H/11  Agustus 2019 M

Masjid Al Ummah BPP , Banjarmasin

Khatib: Dr. Muhammad Hudaya Bulya

Potret Keluarga Ideal: Ketaatan Yang Melahirkan Peradaban

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

 

الله أكبر  الله أكبر الله أكبر

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Allahu Akbar 3X walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang selalu dan senantiasa memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW kepada keluarga, sahabat-sahabat dan para penerus risalahnya yang terus berjuang menda’wahkan dinul Islam ini hingga akhir zaman.

Selanjutnya mari kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dengan menjunjung tinggi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sebaik-baik bekal adalah taqwa.

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ….

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal

Rangkaian takbir, tahlil dan tahmid kembali berkumandang menyambut datangnya salah satu hari agung dalam Islam yaitu Hari Raya Idul Adha. Disaat yang bersamaan saudara saudara kita yang  sedang berkumpul di Makkatul Mukarramah dan sekitarnya, melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji.

Mudah-mudahan saudara-saudari kita, baik yang berasal dari tanah air maupun yang datang dari berbagai benua, negara dan suku bangsa, selalu dalam perlindungan dan rahmat Allah SWT. Terhindar dari segala bencana, musibah dan malapetaka, hingga mereka pulang nanti ke tanah air memperoleh predikat haji yang mabrur, aamin ya mujibassaailiin.

Kepada kita yang sedang tidak berhaji disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban bagi yang mampu sebagaimana firman Allah befirman:

(2) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (1)إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak(1)

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah (2)

Demikian penting ibadah qurban ini, Rasulullah SAW bahkan mengancam orang-orang yang memiliki kemampuan tetapi tidak melaksanakan ibadah ini dengan sabdanya:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَايَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekat ke mushalla/tempat sholat id  kami.” ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Penyembelihan hewan qurban dilaksanakan selama dilaksanakan selama 4 hari mulai 10 , 11, 12 dan 13 Dzuhijjah. Oleh karenanya sangat ditekankan kepada kita semua yang mampu untuk tidak melewatkan peristiwa penting ini begitu saja, tanpa melaksanakan ibadah qurban. Sebagai komitmen cinta, taat dan perilaku siap berqurban kita kepada Allah SWT.

Allahu Akbar 3X walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Berkenaan dengan sikap ikhlas dalam berqurban, profil keluarga Nabi Ibrahim AS bisa menjadi salah satu rujukan bagi keluarga muslim. Nabi Ibrahim beserta isteri-isterinya telah terbukti mampu mendidik dan menghantarkan dzuriatnya menjadi orang-orang besar dalam sejarah peradaban manusia

Nabi Ismail AS dan Ishaq AS adalah bukti pendidikan keluarga yang beliau lakukan mampu menghasilkan generasi gemilang dengan torehan prestasi besar dalam sejarah perkembangan Islam. Generasi yang mampu melanjutkan misi kerasulan dan menjawab tantangan zaman. Mengenai teladan Nabi Ibrahim dan anak-anaknya ini Allah abadikan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

                                                                   …  قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Artinya:        

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Saat ini ummat Islam bukanlah komunitas yang memimpin peradaban dunia. Kita lebih banyak menjadi penonton, bahkan hanya menjadi pengikut dari peradaban dan budaya-budaya bangsa lain. Kita belum sepenuhnya mampu dan mau untuk berdiri tegak dengan khazanah agama kita sendiri. Khazanah Islam yang mulia dan memanusiakan, ajaran tauhid yang mengokohkan iman serta prinsip keadilan yang menyejahterakan kemanusian.

Sudah saatnya pendidikan keluarga dan formal kita berbasis pada kebenaran Islam yang hakiki, membentuk generasi muda yang Islami dan berkarya dengan banyak prestasi. Saatnya kita meneladani prinsip-prinsip Islam yang diajarkan Nabi Ibrahim yang kemudian disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Kalau kita resapi dengan seksama dialog Nabi Ibrahim dan Ismail, maka sungguh akan kita temukan kualitas dialog yang mengagumkan. Meniadakan cinta dunia yang sesaat, diganti dengan kecintaan yang penuh rahmat, menyerahkan diri yang fana, lalu meleburnya ke dalam nafsu yang penuh taat. Menggetarkan sanubari hati dari tiap-tiap jiwa yang mengharap rahmat, dari sang penggenggam dunia dan akhirat.

Begitulah kualitas dialog berderajat mulia dari Nabi Ibrahim kepada anaknya Ismail, yang Allah abadikan dalam surah Ash Shaafaat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”

Saat ini kita menemukan kecenderungan terjadinya penurunan kualitas rasa hormat: yang muda kepada yang tua,  anak kepada orangtuanya dan murid kepada gurunya. Apalagi kalau membandingkan kualitas rasa hormat anak zaman sekarang dengan kualitas  yang telah ditunjukkan oleh Ismail kepada ayahnya Nabi Ibrahim.

Kita perlu melakukan introspeksi kepada diri kita masing-masing. Boleh jadi hal tersebut dikarenakan oleh faktor kita sebagai seorang ayah atau orangtua yang belum mampu menjadi teladan bagi anak-anak kita. Ditengah isu kenakalan remaja yang mengkhawatirkan saat ini, maka mempersiapkan dan menjadikan diri sebagai ayah dan ibu teladan bagi anak-anaknya adalah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Allahu Akbar 3X walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Untuk itu kita harus memahami kunci sukses mengapa keluarga Nabi Ibrahim berhasil melahirkan generasi berkualitas dengan karyanya yang menyejarah, meletakkan fondasi peradaban Makkah, mengangkat derajat ummah, kepada ketinggian akhalqul karimah. Sedikitnya ada 4 hal yang menjadi kunci sukses Nabi Ibrahim dalam membina dan mendidik keluarganya.

Pertama:  Aqidah yang kokoh dan lurus

Sejak muda Nabi Ibrahim dikenal sebagai pemuda pemberani, berpikiran kritis tidak taqlid buta dan pencari kebenaran. Kondisi negara dan keluarga yang saat itu penuh dengan kemusyrikan tidak membuat Ibrahim muda meyerah dengan keadaan tersebut apalagi hanyut berkolaborasi dengan penguasa saat itu.

Ibrahim muda adalah potret pemuda yang menemukan tauhid dengan penuh perjuangan, diantara begitu banyak konsep ketuhanan yang tidak tunggal dan menabrak logika akal sehat. Keseharian hidupnya dengan ayahnya yang merupakan pembuat berhala, tidak mampu menarik hatinya untuk berkhidmat, apalagi terlibat dalam pusaran kemusyrikan yang terlaknat. Beliau tetap lurus pada ajaran tauhid kepada Allah.

 

Artinya:

 (Ingatlah) ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah itu ? (QS: Ash-Shaafaat [37]: 85)

Apakah kamu menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? (QS: Ash-Shaafaat [37]: 86)
 

Beliau menjadi sosok pemuda berintelektual hebat, menggulung habis logika ketuhahan sesat penuh munkarat. Walaupun harus berhadapan dengan seorang ayah yang tersesat dari penguasa kejam lagi bejat. Namun beliau terus berjuang membebaskan manusia dari kemusyrikan yang terlaknat.

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW sebagai penutup Nabi dan Rasul menyempurnakan fondasi agama Islam sebagaimana sabdanya:

Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah -bagi yang mampu-, (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Jadi kunci pertama dari keluarga yang sukses dunia-akhirat adalah, seorang ayah atau orangtua yang memiliki aqidah yang kokoh dan lurus  dalam mendidik anggota keluarganya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allahu Akbar 3X walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Kedua: Shalat sebagai tiang agama dan keluarga

Setelah fondasi keluarga dibangun dengan aqidah yang kokoh dan lurus, Nabi Ibrahim mencontohkan bahwa ibadah shalat harus menjadi ruh yang menyokong bangunan keluarga menjadi kuat dan solid.

Pada zaman sekarang ini tidak mudah menjaga ibadah shalat wajib kita terjaga dengan baik.  Begitu banyak ragam jenis hiburan yang tersedia, baik yang ada didalam rumah berupa sambungan televisi dan internet, maupun hiburan diluar rumah berupa pub, karaoke, dan diskotik yang makin banyak berdiri di berbagai penjuru di kota ini.

Saat ini kita berada pada suatu zaman, dimana akses kepada hiburan-hiburan tersebut  makin mudah, makin murah dan makin membahayakan iman. Tidak ada benteng yang lebih kuat menahan hal tersebut kecuali ibadah Shalat, sebagaimana firman Allah:

… إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ…

Artinya:

“…sesungguhnya shalat itu mencegah dari pekerjaan keji dan munkar

Teladan Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa praktik ibadah shalat akan lebih baik kalau diajarkan langsung oleh kedua orangtuanya. Orangtua, dalam hal ini, ayahlah harus lebih peduli terhadap pendidikan dan kualitas shalat si anak, bukan guru disekolah. Sebab pendidikan yang pertama dan utama harus dimulai dari rumah.

Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa orangtua cenderung untuk mengandalkan sekolah dalam pendidikan shalat anak, karena menganggap sekolah telah menyediakan dan memfasiltasi anak/peserta didik untuk mendapatkan hal tersebut.

Kalau pusat pendidikan agama, termasuk shalat itu dimulai dari rumah, maka akan membuat seorang ayah atau kepala rumah tangga lebih bertanggungjawab dan berusaha keras untuk menjadi faqih dalam pemahaman agama, termasuk ilmu mengenai shalat. Hal ini pada gilirannya akan membuat kualitas dialog di rumah tangga akan semakin berbobot dan meningkat.

Setelah mendidik anggota keluarganya ibadah shalat dengan baik, tugas orangtua berikutnya kepada anaknya adalah, menaburi hati anak-anaknya dengan lantunan do’a yag indah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, AS:

Artinya:

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (QS: Ibrahim:40)

Allahu Akbar 3X walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Ketiga: Selalu taat kepada wahyu Allah

Kunci sukses berikutnya dari Nabi Ibrahim dalam mendidik anak-anaknya adalah menjadikan wahyu Allah sebagai rujukan utama dalam memecahkan segala problem hidup dan kehidupan. Mereka begitu taat kepada perintah Allah, walaupun perintah tersebut hanya datang melalui tabir mimpi yang mungkin terdengar tidak ‘manusiawi’ dalam pandangan manusia yang awam. Karena harus menyembelih anak kesayangan yang sudah begitu lama dinanti kehadirannya

Namun Ismail muda menerima perintah Allah tersebut tersebut ikhlas, seraya meyakinkan ayahandanya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut dengan sikap penuh kesabaran. Percakapan agung nan indah dari pasangan ayah dan anak tersebut mungkin tidak terjadi kalau keduanya tidak menjadikan wahyu atau kalam Allah sebagai perintah suci yang wajib ditaati.

Kalau peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut kita tarik dalam konteks kekinian maka kita akan sulit menemukan dialog indah antara seorang ayah dan anak yang penuh dengan ketaatan dan keikhlasan. Jangankan disuruh taat untuk bersedia disembelih lewat petunjuk mimpi. Disuruh shalat yang jelas perintah nash Al Qur’an dan Hadits-nyapun seringkali bisa berakhir dengan ungkapan keengganan bahkan pengabaian.

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Artinya:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman:”Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim” (QS: Al Baqarah: 124)

Jadi keluarga yang ahli Al Qur’an adalah keluarga yang atmosfir dan nafasnya adalah ketaatan dan keikhlasan. Mereka dengan penuh keyakinan mengerjakan atas apa yang Allah titahkan. Hanya ridha Allah semata yang mereka harapkan.

 

Allahu Akbar 3X walillahilhamdu

Jama’ah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Keempat:Komunikasi keluarga yang penuh kelembutan

Kunci sukses lain yang membuat keluarga Nabi Ibrahim melahirkan generasi impian adalah terletak pada kualitas komunikasi keluarga yang penuh kelembutan. Kehidupan masa muda beliau yang penuh perjuangan keras melawan Raja Namrud yang lalim serta  ayah yang musyrik tidak membuat beliau kehilangan sifat kelembutan ketika membina dan mendidik anak-anaknya.

Allah mengabadikan panggilan lembut penuh kasih sayang seorang ayah kepada anaknya tersebut sebagaimana yag termaktub dalam Surah Ash Shaafaat ayat 102 dengan ungkapan yaa bunayya (wahai anakku), bukan dengan panggilan yaa walad (wahai anak) atau yaa Ismail (wahai Ismail).

Sikap lembut sang ayah akhirnya berhasil membentuk pribadinya dengan budi bahasa yang halus,  penuh hormat dan kelembutan kepada orangtuanya. Maka Ismail memanggil ayahnya dengan ungkapan yaa abati  bukan dengan istilah yaa abi yang dari tinjauan bahasa bermakna lebih halus dan lembut. Sebuah panggilan yang menujukkan kualitas hubungan ayah dan anak yang diliputi kasih sayang dan kelembutan. Mengenai sifat lembut Nabi Ibrahim Allah wahyukan dalam Surah At Taubah ayat 114:

. إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ …

Artinya:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun

Nabi Muhammad SAW juga telah mengajarkan kita bagaimana berkomunikasi dengan cara yang santun dan lembut kepada anak-anak, sebagaimana yang terkandung dalam Hadits ini:

Diterima dari Umar bin Abi Salamah, bahwa ia masuk ke rumah Nabi SAW yang ketika itu sedang menghadapi sajian, maka sabdanya: “Mendekatlah hai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan ambillah yang berada di depanmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Abu Daud)

Dengan demikian kualitas komunikasi rumah tangga juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah keluarga dalam membina dan melahirkan generasi terbaik. Oleh karena itu masalahnya sekarang adalah apakah kita sudah berkomitmen untuk melahirkan, mendidik dan membina generasi penerus yang sukses dunia dan berakhirat

Jawabannnya kembali kepada kita  masing-masing, apakah sudah bersungguh-sungguh untuk melahirkan generaasi khairu rumah tersebut.  Ataukah itu hanya keinginan belaka, tanpa dibarengi dengan azam atau tekad yang kuat untuk mewujudkannya.

Marilah kita menjadikan semangat berqurban Nabi Ibrahim dan keluarganya  sebagai teladan dan motivasi bagi kita semua, untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya, mari kita tengadahkan tangan dan hati kita, memohon ampunan dan rahmat-Nya. Dengan harapan agar Allah SWT mengabulkan seluruh hajat dan permohonan kita.

 

 

Marilah kita jadikan semangat dan nilai-nilai Ramadhan sebagai motivasi bagi untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya, mari kita tengadahkan tangan dan tundukan hati kita, untuk memohon lindungan, ampunan, rahmat dan hidayah-Nya. Dengan harapan agar Allah SWT mengabulkan seluruh hajat dan permohonan kita.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ

Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu shallalhu alaihi wasallam.

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

 Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.

اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, berilah kesabaran kepada kami atas kebenaran, keteguhan dalam menjalankan perintah, akhir kesudahan yang baik dan ‘afiyah dari setiap musibah, bebas dari segala dosa, keuntungan dari setiap kebaikan, keberhasilan dengan surga dan selamat dari api neraka, wahai dzat yang Maha Pengasih.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhanku, jadikanlah hamba dan anak cucu hamba orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doa hamba.

 

Ya Tuhan kami, ampunilah hamba dan kedua ibu bapak hamba dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.

 

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ،.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Riwayat Hidup Khatib

 

Nama : Dr. Muhammad Hudaya Bulya
Pendidikan : SDN Seberang Mesjid 3, Kampung Melayu, Banjarmasin

SMPN 9 Banjarmasin

SMAN 1 Banjarmasin

S1 Akuntansi FEB ULM

S2 Manajemen FEB ULM

S3, School of Accounting & Finance, University of Wollongong, New South Wales, Australia

Email : mhudaya@gmail.com
Organisasi   ·         Ketua Umum pengurus wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Provinsi Kalimantan Selatan periode 2018-2021.

·         Wakil Ketua Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Kalsel

·         Internal auditor LazisMu Provinsi Kalimantan Selatan

 

SebelumnyaTeks Khutbah 'Idul Adha: NABI IBRAHIM ADALAH INSPIRASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN TERBAIK

Berita Lainnya

0 Komentar